Selaras dengan Alam
Leluhur Jepang menganggap manusia sebagai miniatur alam semesta. Kepala = langit; hidung = gunung; kaki = tanah; mata = matahari & bulan; darah = sungai. Sebagaimana air sungai jadi keruh karena hujan deras dan banjir, darah manusia mengeruh karena perasaan tak stabil hingga merusak kesehatan. Bangsa Jepang sangat dipengaruhi faktor alam dalam mencapai tingkat kehidupan lebih tinggi. Ini mencakup peralihan musim dan berbagai gangguan alam yang justru menuntut bangsa itu bekerja lebih keras untuk mempertahankan dan mengembangkan aneka bentuk kemajuan.
Hijau itu mendamaikan. Lihat saja Indonesia yang alamnya (dulu) sangat hijau, penduduknya ‘kan banyak senyum dan tertawa. Bandingkan dengan bangsa-bangsa yang tinggal di gurun dan padang pasir, mereka keras sesuai alamnya, ribut melulu. Jepang yang empat musim juga gelap. Saya senang Indonesia.



Saya setuju ini,…. alam memang harus kita jaga karena kita adalah bagian dari alam.